Perkembangan Bahasa pada Anak

Perkembangan bahasa pada anak adalah proses pemerolehan unsur-unsur bahasa pada seorang anak, yang meliputi pemerolehan fonologis, morfologis, sintaksis, leksikal, semantik, dan pragmatik.
Para pemirsa yang budiman, pemerolehan fonologi pada anak meliputi kemampuan anak menghasilkan bunyi-bunyi bahasa yang berupa vokal dan konsonan walaupun belum dalam bunyi yang sempurna. Bunyi-bunyi tersebut terjadi secara bertahap yaitu:
a. pada usia 6 minggu, anak menghasilkan bunyi-bunyi yang mirip bunyi vokal dan konsonan
b. pada usia 8-20 minggu, anak berada pada tahap mendekut (cooing)
c. pada usia 6 bulan, anak mencampur bunyi konsonan dan vokal (babbling)
d. pada usia 2 tahun, anak melafalkan sebuah dengan konsonan di akhir kata tidak dilafalkan
e. pada usia 3 tahun, anak umumnya belum dapat melafalkan gugus konsonan, karena kekurangproporsionalan organ ucap anak
Pemerolehan fonologi pada anak meliputi kemampuan anak menghasilkan bunyi-bunyi bahasa yang berupa vokal dan konsonan walaupun belum dalam bunyi yang sempurna. Bunyi-bunyi tersebut terjadi secara bertahap yaitu:
a. pada usia 6 minggu, anak menghasilkan bunyi-bunyi yang mirip bunyi vokal dan konsonan
b. pada usia 8-20 minggu, anak berada pada tahap mendekut (cooing)
c. pada usia 6 bulan, anak mencampur bunyi konsonan dan vokal (babbling)
d. pada usia 2 tahun, anak melafalkan sebuah dengan konsonan di akhir kata tidak dilafalkan
e. pada usia 3 tahun, anak umumnya belum dapat melafalkan gugus konsonan, karena kekurangproporsionalan organ ucap anak
Berikut ini contoh pemerolehan fonologi pada anak :
• mi…mi…,
• ma…ma…,
• pa…pa…,
• ta…ta…
Pemerolehan morfologi pada anak adalah pemerolehan bentuk morfem pada anak, baik morfem bebas dalam bentuk kata, maupun dalam bentuk morfem terikat. Namun pemerolehan tersebut lebih sering berupa morfem bebas berupa bentuk dasar atau kata dasar. Beberapa ahli menyatakan pendapatnya mengenai hal tersebut.

  1. Bloom danTardif (Darjowidjojo, 2005:259), menyatakan bahwa kelas kata kerja diperoleh lebih awal daripada kelas kata lainnya, dan frekuensi penggunaannya juga lebih tinggi.
  2. Gentner (Dardjowidjojo, 2005:259), menyatakan bahwa kata benda diperoleh lebih awal daripada kata kerja dan frekuensinya pun lebih tinggi.
  3. Dardjowijojo (2000:268), menyatakan pendapatnya berdasarkan penelitiannya, bahwa selama lima tahun pemerolehan leksikon anak didominasi oleh kata benda, diikuti kata kerja pada urutan kedua, kata sifat pada urutan ketiga, serta kata tugas pada urutan berikutnya.
    Berikut ini contoh pemerolehan morfologi pada anak :
    • Kata benda: susu, mobil, baju
    • Kata kerja : makan, beli, baca
    • Kata sifat : enak, baik, cantik, jelek
    • Kata tugas : si, yang, di, ke

Pemerolehan Sintaksis pada anak adalah pemerolehan unsur bahasa pada anak yang meliputi frase, klausa, dan kalimat, beserta intonasinya. Khususnya dalam ujaran dua kata (UDK) pada anak telah menunjukkan bahwa anak telah menguasai kelas kata sederhana dan mampu secara kreatif memvariasikan fungsinya.
Selanjutnya adalah pemerolehan leksikal pada anak adalah penguasaan kosakata yag ada di sekeliling anak. Di mana pun seorang anak berada, dia akan menguasai kosakata yang ada di sekelilingnya dan kosakata yang pada saat itu ada. Akan sulit bagi anak membayangkan benda yang tidak ada di depan mereka. Demikian pula, sulit bagi anak untuk mengungkapkan peristiwa yang telah lalu atau yang akan datang, yang belum terjadi. Leksikon yang dikuasai anak sangat bergantung pada keadaan anak. Anak petani di desa akan lebih awal memperoleh dengan sempurna kata cangkul dan sawah. Akan tetapi, mereka sulit menguasai dengan baik kata krayon dan komputer, seperti anak yang tinggal di kota.
Pemerolehan semantik dilakukan seorang anak dengan mengamati dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi yang ada di sekitar kehidupannya. Apa yang diamati oleh seluruh panca indranya menjadi pengetahuan dunianya. Berdasarkan pengetahuan dunia inilah seorang anak memperoleh semantik bahasa dunianya dengan cara melekatkan ”makna” yang tetap kepada urutan bunyi bahasa tertentu. Ahli-ahli psikologi perkembangan menyatakan bahwa anak-anak memperoleh makna suatu kata dengan cara menguasai fitur-fitur semantik kata satu demi satu sampai dengan semua fitur semantik itu sebagaimana yang dikuasai oleh orang dewasa (Abdul Chaer, 2003:195).
Contoh pemerolehan semantik pada anak adalah:

  1. Seorang balita menyebut kuda dan membunyikannya dengan /da/ demikian pula terhadap kerbau, sapi, kambing, kucing dan binatang lain yang berkaki empat.
  2. Seorang balita menyebut apel dengan /apoi/demikian menyebut jeruk, limau, pir, mangga, dan buah-buahan lain yang memiliki bentuk dan ukuran sejenis .
    Pemerolehan pragmatik pada anak, memiliki urutan sebagai berikut.
    (1) Pemerolehan niat komunikatif dan pengembangan ungkapan bahasanya. Niat komunikatif ditunjukkan anak pada minggu-minggu awal setelah kelahirannya. Niat tersebut diekspresikan dengan tersenyum, menoleh bila dipanggil. Niat komunikatif secara vokalisasi, dalam bentuk bunyi baru dilakukan pada saat bayi berusia 13 bulan. Selain itu ucapan yang diucapkan adalah bentuk refleksi atas situasi yang menarik bagi dia yang dilisankan.
    (2) Pengembangan kemampuan bercakap-cakap dengan segala urutannya.
    Pada tahap ini anak mulai menguasai aturan-aturan percakapan. Anak memiliki kesantunan secara gradual dalam bergiliran ketika berkomunikasi .
    (3) pengembangan piranti untuk membentuk wacana yang kohesif. Anak belajar memperoleh piranti untuk membentuk wacana yang kohesif dari orang dewasa sebagai teman berbicara. Teman bicara orang dewasa juga akan sering membantu anak, dengan banyak mengulang kata kunci yang dianggap kurang didengar atau kurang dipahami anak.

Leave a Reply